Share the love & peace!

Try to change the world

More About Me...

Nyiur melambai, menghempaskan semilir angin ke wajahnya yang mulai memerah. Hendri tetap duduk terpaku di atas pecahan batu besar di puncak bukit, memandangi hamparan sawah yang menguning. Hampir satu jam ia duduk di sana. “Hmmmmmmmm”, ia menghela nafas dalam-dalam. “Sudah lima belas tahun aku meninggalkan kampung ini”. Baca selanjutnya...

Another Tit-Bit...

"Sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keberuntunganmu" "Berani hidup tak takut mati. Takut mati jangan hidup. Takut hidup mati saja" "Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar dan apa yang kau rasakan adalah pendidikan". "Sesuatu yang dibuat dengan sepenuh hati akan menghasilkan yang terbaik; jadilah orang yang maksimalis!".

Jejak Mas Jawa di Tanah Deli

Kehadiran masyarakat Jawa di pulau Sumatera merupakan sebuah sejarah panjang. Berawal pada tahun 1863, Kapal Josephine yang membawa orang-orang Belanda yang bekerja di perkebunan tembakau dari Jawa Timur, salah satunya Jacobus Nienhuijs, dari Firma Van Den Arend Surabaya mendarat di Kesultanan Deli. Oleh Sultan Deli, ia diberi tanah 4.000 bau untuk kebun tembakau, dan mendapat konsesi 20 tahun.

Sejak awal dimulainya, perkebunan tembakau ini menunjukkan kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat. Tanaman tembakau di tanah Deli yang dirintis oleh Jacobus Niensuys terbukti menghasilkan produk yang sangat menguntungkan di pasar perdagangan Eropa. Hal ini menjadikan Deli sebagai daerah penghasil termasyhur di dunia kawasan produksi daun pembungkus cerutu. Keberhasilan ini membuat Jacobus melebarkan usahanya dan berekspansi ke komoditas lain, seperti karet, kopi dan lada maupun pala dan bahkan kelapa sawit.

Dampak dari pada pembukaan perkebunan tersebut adalah meningkatnya dan dibutuhkannya tenaga kerja yang luar biasa banyak. Diawal perintisannya, Nienhuys mencoba menarik kuli dari Singapura, Swatow maupun India Selatan (keturunan India juga banyak di Medan, mereka sering di sebut sebagai orang keling). Sementara dari dalam negeri, diutamakan dari Bagelans, Semarang dan Surabaya. Anthony Reid (1987:81) mencatat bahwa perkebunan-perkebunan kopi yang dibuka pada tahun-tahun 1890-an, dan perkebunan-perkebunan karet, teh, kelapa sawit yang berkembang cepat sesudah tahun 1900, bergantung sepenuhnya pada pekerja-pekerja Jawa, demikian juga dengan perkebunan-perkebunan Belanda di Suriname.

Keadaan kehidupan Buruh di Perkebunan Deli tidaklah secerah reputasi Tembakau Deli di pasaran Eropa. Kehidupan para buruh kebun ini sangat memprihatinkan. Kemelaratan kuli yang bekerja dalam perkebunan ini merupakan bagian dari kekejaman sistem Poenale sanctie yang diterapkan kepada kuli kontrak tersebut. kehidupan yang serba melarat itu diakibatkan oleh tiga hal yakni: i) tingkat upah yang rendah, ii) fasilitas perumahan dan kesehatan yang minim dan iii) ketergantungan kepada kontrak. “Dulu, para buruh kontrak ditempatkan dalam sebuah barak yang terbuat dari tepas” kata P. Wagimin (72 th), tetanggaku, mengulangi cerita almarhum ayahnya.

Kepedihan inilah yang hingga pada saat ini membuat semua keturunan Jawa yang ada di Sumatera Utara, merasa seperti saudara karena merasa“tunggal sak kapal” Saat ini generasi Jawa yang ada di Sumatera sangat berkembang pesat populasinya seiring juga dengan perkembangan kualitasnya, dimulai dari karyawan perkebunan hingga pejabat penting di pemerintahan, dari politisi sampai pengusaha sukses. Diramaikan lagi dengan para orang Jawa perantauan, sepertiku :)

Share

0 comments:

Poskan Komentar



 
Designed by eblogtemplates.com. Developed by hensba. Copyright @ 2008 - 2009. All rights reserved.