Share the love & peace!

Try to change the world

More About Me...

Nyiur melambai, menghempaskan semilir angin ke wajahnya yang mulai memerah. Hendri tetap duduk terpaku di atas pecahan batu besar di puncak bukit, memandangi hamparan sawah yang menguning. Hampir satu jam ia duduk di sana. “Hmmmmmmmm”, ia menghela nafas dalam-dalam. “Sudah lima belas tahun aku meninggalkan kampung ini”. Baca selanjutnya...

Another Tit-Bit...

"Sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keberuntunganmu" "Berani hidup tak takut mati. Takut mati jangan hidup. Takut hidup mati saja" "Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar dan apa yang kau rasakan adalah pendidikan". "Sesuatu yang dibuat dengan sepenuh hati akan menghasilkan yang terbaik; jadilah orang yang maksimalis!".

Lampah sejarahku

Prolog

Nyiur melambai, menghempaskan semilir angin ke wajahnya yang mulai memerah. Hendri tetap duduk terpaku di atas pecahan batu besar di puncak bukit, memandangi hamparan sawah yang menguning dan pedesaan yang damai. Hampir satu jam ia duduk di sana.

“Hmmmmmmmm”, ia menghela nafas dalam-dalam. “Sudah lima belas tahun aku meninggalkan kampung ini” katanya dalam hati. “Gila!, sudah separuh hidupku”.

Langon, sebuah dusun kecil di kaki bukit Kuntul, 24 KM arah selatan kota Jember, Jawa Timur. Tidak ada yang istimewa dari dusun agraria ini, kecuali nilai religiusitas warganya yang tinggi.

Secara teritorial, dusun Langon dibagi menjadi beberapa bagian; Langon Lor, Langon Tengah, Langon Kidul, Langon Andongsari, Kidul Gunung dan Lor Gunung. Dulu, masing-masing teritorial mempunyai sebuah pondok pesantren atau lembaga pendidikan Diniyah. Kami sering mengadakan perlombaan-perlombaan setiap akhir tahun ajaran (menjelang Ramadhan). “Sekarang tinggal Langon Tengah aza Hen yang masih bertahan” kata Mujilun, sahabat karibnya.

Arus globalisasi memang telah merubah segalanya. Beberapa pemuda yang pulang dari bekerja di perantauan membawa virus hedonisme, menjauhkan generasi Langon dari gothaan dan dampar (bilik pesantren dan meja pendek untuk mengaji)

Resistensi Langon Tengah terhadap perubahan negative ini tidak lain karena peran serta para alumnus beberapa pesantren salafiyah di Jawa Timur. Sejak dulu, warga Langon Tengahlah yang paling banyak mengirim anaknya ke pesantren-pesantren. Termasuk Hendri.

Di dusun inilah Hendri dilahirkan, 30 tahun yang lalu, tepatnya pada hari Minggu, 15 Juli 1979 dari pasangan Bapak Amin Thahari dan Ibu Riyati di sebuah keluarga kecil, jauh dari kemewahan.

Nama lengkapnya Hendri Bahrul Alam. Jangan tanya sang ibu kenapa beliau memberikan nama ini, beliau hanya ingin melihat anaknya kelak menjadi seperti teman sekolahnya dulu, yang bernama Bahrul Alam. “Ia pandai dan penurut” kata beliau, suatu saat ketika ia bertanya tentang filosofis namanya.

Hendri Kecil

Hendri balita tumbuh dengan sangat nakalnya. Kata beberapa tetangga, ia sering mengejar-ngejar ibunya dengan membawa pentungan dari palang pintu rumah. Ia takkan berhenti kecuali kalau sang ibu tergeletak di atas lantai, pura-pura meninggal. Masya Allah. Namun kenakalan itu mulai hilang, setelah menginjak usia 7 tahun, ia memiliki adik, Winda Nuroini.

Hendri kecil tumbuh bersama kepedihan masyarakat pedesaan. Membantu menanam tembakau, mencari kayu bakar, berjualan kue dan layang-layang, ngasak; memungut sisa-sisa panen kedelai dan kacang tanah untuk sekedar membeli sepatu dan buku sekolah. Kehidupan benar-benar telah menempanya.

Diantara teman-teman sepermainannya, Hendri merupakan sosok aktifis permainan, segala macam permainan yang lagi musim di Langon, ia pasti berada disitu. Meskipun ia tidak pernah menjadi ketua kelompok, namun ia selalu menjadi rujukan dalam hal pelajaran sekolah.

Setelah menamatkan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyyah Ma’arif (MIMA) X AL-HIKAM Langon dengan prestasi yang menggembirakan pada tahun 1991, ia meneruskan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyyah (Mts) Ma’arif Ambulu, sekaligus menjadi santri kalong di Pon-Pes Salafiyah Syafi’iyyah AL-HIKAM Langon.

Setiap pagi, sepulang dari pesantren, ia berangkat ke sekolah formal milik NU ini dengan mengayuh sepeda BMX butut yang dibelikan bapaknya di pasar loak dekat alun-alun kecamatan. Di sekolah ini, ia mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan umum dan agama, dan tak ketinggalan pelajaran tentang konsep dasar dari organisasi NU. Sore hari sebelum adzan Maghrib, ia berangkat ke pesantren dekat rumahnya, mempelajari dasar-dasar gramatikal bahasa Arab (Nahwu dan Sorf), ilmu tajwid, ilmu fiqh ‘ala madzhab Syafi’i dan beberapa “kitab kuning” tentunya. Di sini ia sempat menamatkan kitab wajib pesantren salaf Ta’limul muta’allim sebanyak 2 kali, kitab Nahwu Jurumiyyah dan setengah nadzoman ‘imrithi, sebelum ia melanjutkan studynya ke Gontor.

Perkenalannya dengan Arif Rahman Hakim, teman dekatnya dari luar kampung, mulai membuka cakrawala pemikirannya keliarannya. Di tahun kedua sekolah menengah, ia kecanduan permainan video game “ding-dong”. Hampir setiap hari, sepulang sekolah, ia nongkrong di arena ketangkasan ini (lokasinya beberapa meter sebelah barat perempatan Ambulu, sekarang berubah menjadi Bank Mandiri). Bermodalkan uang saku sekolahnya yang hanya 200 perak, ia bermain “street Fighter”, Teenage Mutant Ninja Turtles”, dan beberapa game 2D lainnya. Namun hanya satu game yang pernah (hampir) berhasil ia tamatkan, (penulis lupa judulnya; pokoknya tentang kerajaan Camelot dengan tokoh Arthur, Lancelot dan Parcepal).

Kecanduannya dengan video game berlanjut sampai kelas 3 SMP, bahkan sepulang EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, sekarang berubah nama menjadi UN) ia sempatkan untuk mampir ke tempat itu. Untungnya, ia berhasil menamatkan jenjang SMP dengan nilai terbaik pada tahun 1994. Hendri memang selalu rangking satu semenjak sekolah dasar.

Kepandaiannya dalam pelajaran, menarik simpati beberapa teman putrinya. Di akhir tahun kedua SMP, ia “ditembak” sang primadona sekolah. Namun sayang, Hendri tidak pandai bergaul. Umpan pun lari meninggalkan ikan.

Ke Gontor apa yang kamu cari

Bersambung…

1 comments:

  1. amunisi komputer mengatakan...
     

    salut buat hendri...saya juga berasal..dari..dusun..langon..yg...indah..itu.
    saya sekarang ada di sulawesi selatan..tepatnya dikota makassar.dan alhamdullilah sekarang saya udah punya usaha sendiri di salah satu mall di makassar.barangkali hendri adalah adik leting saya ...karena saya lahir 1977..tapi saya yakin kita saling tau meskipun tidak saling kenal

Poskan Komentar



 
Designed by eblogtemplates.com. Developed by hensba. Copyright @ 2008 - 2009. All rights reserved.