Share the love & peace!

Try to change the world

More About Me...

Nyiur melambai, menghempaskan semilir angin ke wajahnya yang mulai memerah. Hendri tetap duduk terpaku di atas pecahan batu besar di puncak bukit, memandangi hamparan sawah yang menguning. Hampir satu jam ia duduk di sana. “Hmmmmmmmm”, ia menghela nafas dalam-dalam. “Sudah lima belas tahun aku meninggalkan kampung ini”. Baca selanjutnya...

Another Tit-Bit...

"Sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keberuntunganmu" "Berani hidup tak takut mati. Takut mati jangan hidup. Takut hidup mati saja" "Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar dan apa yang kau rasakan adalah pendidikan". "Sesuatu yang dibuat dengan sepenuh hati akan menghasilkan yang terbaik; jadilah orang yang maksimalis!".

Loyalitas

Di tempat kerjanya, Krusty Krab, Spongebob adalah tipe seorang karyawan teladan yang sangat loyal, berbanding terbalik dengan Squidward si penjaga kasir. Spongebob selalu berusaha agar ia dapat bekerja di Krusty Krab selamanya, bahkan di sebuah episode, ia rela tidak digaji oleh Tuan Crab asalkan dapat terus memanggang Krabby Patty. Bodoh memang, tapi loyalitasnya patut dijadikan bahan renungan.

Di Gontor, Loyalitas merupakan salah satu dari beberapa kriteria penilaian sikap yang dijadikan acuan untuk penentuan seorang santri mendapatkan amanat sebuah jabatan di organisasi dan tempat pengabdian. Kriteria penilaian tersebut terangkum dalam singkatan PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas dan Tanpa cacat). Semenjak tahun pertama, para santri telah dibina mental loyalitasnya (sense of belonging) terhadap asrama (rayon), club, gugus depan kepramukaan (POT), angkatan (marhalah) dengan persaingan-persaingan positif dalam perlombaan-perlombaan dan kepanitiaan-kepanitiaan.

Di luar Hogwart (meminjam istilah Himawan untuk “Gontor”), saat ini, mengamati begitu mudahnya caleg atau partisipan berpindah partai, para selebriti berganti-ganti pasangan, pemain bola mengeruk keuntungan saat berpindah klub atau karyawan yang dengan mudahnya meloncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain, seakan menyadarkan kita betapa mungkin loyalitas bukan lagi konsep yang popular atau telah bermetamorfosis menjadi suatu konsep baru.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah terbiasa “zapping“, memainkan remote control untuk menukar program stasiun TV, berpindah-pindah merk barang untuk mencari sensasi baru -semoga tidak untuk pasangan :)-dan lain sebagainya, bukti bahwa kita memang tidak loyal. Bagaimana dengan di perusahaan?

Sebuah surat kabar nasional mengulas bahwa di era tahun 70-an, loyalitas tidak dipertanyakan. Kita lihat betapa karyawan bangga mengabdi dan mendedikasikan seumur hidupnya pada perusahaan (mewakili institusi, lembaga, partai dan lain-lain). Loyalitas seakan sudah termasuk dalam kontrak kerja dan paket kepegawaian. Namun, saat kemudian unsur SDM mulai dianggap sebagai barang “disposable“, seperti kertas tisu, dipakai saat diperlukan, kemudian dibuang setelah habis dimanfaatkan. Muncullah strategi pengembangan sumber daya manusia seperti downsizing, offshoring, outsourcing atau entah apa namanya semacam tehnik mengakali kontrak yang berakibat rasa tidak bersalahnya karyawan bila juga mengembangkan rasa tidak loyal pada perusahaan. Benarkah loyalitas sudah mati?

Saya kira, loyalitas tidak lagi harus pasif dan kaku; diukur dengan pengabdian diri seumur hidup di perusahaan atau institusi. Apakah kita yang telah meninggalkan “Kampung Damai” untuk terjun ke masyarakat dianggap tidak loyal terhadap ma’had? Tidak, loyalitas lebih bisa diukur dengan produktifitas kita pada masa bakti. Para karyawan professional menganggap dirinya sebagai free agent yang siap direkrut oleh perusahaan manapun. Mereka tidak bisa dikatagorikan sebagai karyawan yang tidak loyal, karena mereka bisa membuktikan produktivitasnya di masa baktinya pada perusahaan.

Loyalitas haruslah terjadi dari dua arah. Perusahaan yang hanya mementingkan pencarian laba (profit oriented), dengan mengesampingkan kebutuhan karyawan lambat laun akan ditinggalkan orang. Karyawan yang cermat, segera bisa merasa “dipecundangi”. Kita lihat bahwa loyalitas yang dibangun satu arah dan tanpa upaya menghadirkan ikatan, kehangatan atau rasa percaya dan dipercaya, sebetulnya malah menjadikan karyawanpun merasa sah-sah saja untuk berpindah ke lain hati.

Kyai Syukri Zarkasyi, empat tahun yang lalu ketika beliau nyelonong mengunjungi tempat kerjaku, membisikkan nasihat-nasihat yang intinya “hati-hati bekerja sama orang”. Maklum kalau beliau mengatakan demikian. Banyak kasus di beberapa institusi pendidikan, anak-anak Gontor “ditendang” keluar setelah mereka membesarkan institusi tersebut. Keikhlasan dan loyalitas Gontorian seakan-akan hanya dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Gontorian seharusnya mempunyai profesionaltas di bidangnya dan “dijual mahal”. Tapi ingat, gaji bukanlah alat ukur, tapi loyalitas dua arah perlu jelas.
Dengan semakin pintarnya karyawan, perusahaan kelihatannya tidak mungkin lagi memanfaatkan keluguan mereka untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Ini adalah saat di mana transparansi justru bisa menjamin loyalitas. Bila timbul masalah dalam hubungan antara karyawan dan perusahaan, bukan berarti harus patah arang. Kita bisa mengembangkan rasa percaya bahwa masalah akan ditangani secara serius. Kita lihat loyalitas bukan musnah, tapi berubah bentuk menjadi lebih realistis. Masihkah anda loyal dengan perusahaan anda?

0 comments:

Poskan Komentar



 
Designed by eblogtemplates.com. Developed by hensba. Copyright @ 2008 - 2009. All rights reserved.